Seni-Budaya, Bencana dan Sejarah Indonesia

Apa sih hubungan antara sejarah Indonesia dengan Bencana? Hubungan langsung memang tidak ada. Tapi ada ‘motivasi spesial’ yang muncul karena banyaknya kejadian di tanah air mengundang perhatian segenap anak bangsa. Respon sensitif yang mengusik rasa nasionalisme pun bermunculan seperti demo di depan Kedubes Malaysia. Sebelumnya aksi penyergapan terorisme di  Temanggung, Jawa Tengah mengundang perhatian pemirsa televisi yang dikemas menjadi tontonan menarik. Dan bencana gempa di Tasikmalaya menjadi ujung akhir kejadian menuju pelantikan Presiden SBY 20 Oktober mendatang. Iya, seni-budaya, nasionalisme, melayu, dan bencana menjadi kata-kata kunci tulisan ini. Hampir lupa, saya sisipkan Sejarah Indonesia yang juga  menjadi kata kunci penyambung (benang merah) kata-kata kunci sebelumnya.

Tidak ada yang bisa membantah bahwa Indonesia kaya akan seni dan budaya. Bayangkan dari Sabang sampai Merauke, ada ratusan bahkan mungkin ribuan seni-budaya, adat istiadat, kebiasaan yang memang asli Indonesia. Tetapi mungkin masih banyak yang belum paham, jenis seni-budaya, adat, bahasa dan kebiasaan apa saja yang termasuk asli Indonesia? Sayapun hanya hafal seni-budaya dan bahasa Bali karena kebetulan orang Bali. Tapi itupun tidak semuanya bisa saya pahami. Apalagi seni-budaya dan bahasa daerah lain.

Keragaman kultur Indonesia itu bisa dikatakan hampir tidak terbatas (?). Dikatakan hampir tidak terbatas karena penelitian tentang seni-budaya, bahasa dan lain-lain masih sangat minim. Dan sedikit sekali yang mau dan termotivasi untuk melakukan kegiatan yang bisa dikatakan (mungkin) tidak bergengsi. Justeru orang asing yang sangat tertarik dan ingin mengkaji berbagai hal terkait kekayaan seni dan budaya Indonesia.

Dengan seni-budaya, bahasa, kebiasaan dan sikap lokal suatu daerah (saya yakin) penanggulangan bencana dapat dilakukan dengan lebih baik lagi. Kenapa? Karena sejak dulu (nenek moyang kita) pasti telah belajar dari pengalaman, terlatih dan terbiasa dengan kejadian bencana yang menimpa daerahnya. Yang namanya manajemen bencana, pasti sudah ada sejak dulu. Sudah dipelajari sejak nenek dan kakek moyang kita hidup di daerah itu. Sejak Kerajaan Majapahit? Tidak! Jauh sebelum itu.

Bagaimana kita bisa tahu seni-budaya, bahasa, kebiasaan, perilaku, adat suatu wilayah atau daerah? Kita butuh ahli sejarah. Kita butuh ahli yang paham perjalanan bangsa ini. Negeri ini butuh orang-orang yang mau peduli akan masa lalu, masa sekarang dan masa mendatang tanah air ini. Orang-orang ini dibutuhkan untuk dapat mengurai secara rinci perjalanan Indonesia dari dulu sampai sekarang. Mungkin kita butuh antropolog kelas dunia, arkeolog mumpuni, orang yang dapat membaca lontar, orang yang dapat memahami simbol-simbol jaman batu dulu. Mungkin nenek moyang kita dulu seperti jaman Flinstone? Atau bahkan seperti deni manusia ikan?

Semua ini amat bermanfaat buat anak-cucu-buyut kita nanti. Karakter bangsa ini mesti diurai secara tuntas. Cari sampai dapat. Jangan malah ‘dicuri’ lagi oleh bangsa lain. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar! Dan itu semua akan semakin besar lagi jika anak bangsanya mau memelihara seni-budayanya secara utuh. Ini semua dapat dilakukan melalui pendidikan. Pendidikan yang bercirikan Indonesia. Pendidikan yang memberikan bekal buat anak bangsa untuk tetap bisa bertahan dalam kondisi dan jaman apapun melalui pemahaman seni-budaya yang kaya. Kaya akan pesan-pesan pentingnya anak bangsa ini untuk kembali ke jati dirinya yang asli, yaitu Asli Indonesia.

REF BY : GOOGLE.COM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: